Selat Hormuz adalah selat sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, dan sejak akhir Februari 2026 kawasan ini menjadi pusat konflik yang membuat banyak calon investor menunda rencana bisnis di Dubai.
Poin Penting
- Krisis Selat Hormuz nyata terjadi sejak 28 Februari 2026 dan sempat menutup jalur pelayaran serta bursa saham UEA selama dua hari.
- Dubai International tidak pernah mengalami penutupan menyeluruh; operasional hub tetap berjalan meski sejumlah rute spesifik ke Iran, Irak, dan Tel Aviv sempat disetop.
- Sektor perbankan UEA tetap tumbuh, dan pasar properti Dubai justru mencatat rekor transaksi pada Juni 2026.
- Bank Sentral UEA memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 1,7 persen, bukti dampak nyata tapi bukan kolaps ekonomi.
- Selat Hormuz sebagian sudah dibuka kembali sejak Juni 2026, dengan skenario gencatan senjata diharapkan rampung akhir Juli 2026.
Artikel ini bersifat informatif berdasarkan data publik per pertengahan Juli 2026 dan tidak menggantikan analisis risiko profesional untuk keputusan investasi Anda.
Apa Itu Selat Hormuz dan Kenapa Sering Muncul di Berita?


Selat Hormuz adalah jalur pelayaran selebar sekitar 33 kilometer di titik tersempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini, gangguan sekecil apa pun langsung memengaruhi harga energi global dan menjadi headline. Sejak 28 Februari 2026, ketegangan meningkat drastis setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang memicu serangan terhadap kapal tanker, ranjau laut di selat, dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran.
Wajar jika berita semacam ini membuat calon investor ragu. Yang sering luput adalah bahwa Dubai secara geografis dekat dengan titik konflik, tetapi secara operasional dan ekonomi berada di posisi yang jauh berbeda dari Iran maupun zona pertempuran langsung.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Sejak Februari 2026?
Untuk jujur menjawab pertanyaan ini, penting mengakui bahwa dampaknya nyata, bukan sekadar riak kecil. Bursa saham Abu Dhabi (ADX) dan Dubai Financial Market (DFM) ditutup selama dua hari pada awal Maret 2026 untuk mencegah aksi jual panik setelah Iran menyerang sejumlah pelabuhan dan kapal tanker regional. Lebih dari 11.000 penerbangan di kawasan Timur Tengah dibatalkan dalam beberapa hari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran awal Maret. Premi asuransi perang untuk kapal yang melintasi kawasan tersebut sempat melonjak sekitar 50 persen.
Emirates memang sempat menghentikan sementara penerbangan ke Teheran, Baghdad, Basra, dan Beirut, dan Etihad menghentikan rute Abu Dhabi-Tel Aviv. Namun perlu digarisbawahi: yang disetop adalah rute ke negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik, bukan operasional Dubai International atau Zayed International itu sendiri. Bandara-bandara UEA tetap buka sepanjang krisis, meski sempat beroperasi dengan kapasitas terbatas selama beberapa hari puncak konflik pada awal Maret.
Bingung Menilai Apakah Ini Waktu yang Tepat untuk Ekspansi?
Tim vOffice, Official Dubai Chamber Partner, membantu Anda memetakan risiko dan peluang sebelum berkomitmen modal.
Bagaimana Kondisi Dubai per Juli 2026?
Data terbaru menunjukkan gambaran yang jauh lebih tenang dibanding puncak krisis Maret. Selat Hormuz sudah sebagian dibuka kembali sejak Juni 2026, dan ekspor minyak UEA kembali mendekati kapasitas penuh. Purchasing Managers Index (PMI) sektor non-migas UEA tetap berada di atas ambang 50 sepanjang periode konflik, artinya aktivitas bisnis tetap berekspansi meskipun melambat, dengan PMI Dubai tercatat 50,7 pada Juni, turun dari 52,0 di Mei namun tetap dalam zona pertumbuhan.
Sektor perbankan justru menguat. Total aset perbankan UEA naik menjadi lebih dari Dh5,4 triliun pada awal 2026, dengan kredit tumbuh stabil. Moody’s mempertahankan peringkat Aa2 UEA dengan outlook stabil pada Maret 2026, dan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat AA/A-1+, mengutip kekuatan fiskal dan ketahanan ekonomi negara ini.
Pasar properti Dubai bahkan mencatat rekor. Juni 2026 mencatat 40.022 kontrak sewa terdaftar di seluruh Dubai, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, sementara transaksi penjualan mencapai 13.933 transaksi senilai AED 33,2 miliar pada bulan yang sama. Ini bukan perilaku pasar yang sedang ditinggalkan investor.
Tentu ada konsekuensi nyata: Bank Sentral UEA memangkas proyeksi pertumbuhan PDB riil 2026 dari 5,6 persen menjadi 1,7 persen pada awal Juli, mengutip dampak sementara dari perkembangan geopolitik regional terhadap perdagangan, pariwisata, dan pelayaran. Ini bukan angka yang bisa diabaikan, tapi juga jauh dari skenario resesi atau eksodus bisnis.
Baca Juga: Peluang Bisnis di Dubai: 9 Sektor Potensial untuk Pengusaha
Gangguan Penerbangan vs Operasional Hub Dubai: Bedanya Apa?
Ini area yang paling sering disalahpahami. Per 13 Juli 2026, Emirates, Etihad, dan flydubai tetap menjalankan operasional penumpang UEA. Bandara Dubai International dan Zayed International tetap buka, meski maskapai menyesuaikan rute penerbangan di sekitar wilayah udara yang dibatasi. Tidak ada maskapai UEA yang mengumumkan penghentian jaringan secara menyeluruh hingga tanggal tersebut. Yang terjadi adalah penyesuaian rute dan waktu tempuh yang lebih panjang untuk menghindari wilayah udara Iran, bukan penutupan hub.
Bedanya penting untuk pengambilan keputusan bisnis: rute penerbangan ke negara yang terlibat konflik langsung memang berisiko dan memang sempat disetop. Tapi Dubai sebagai basis operasi, domisili perusahaan, dan pusat perbankan berjalan seperti biasa selama krisis berlangsung, dengan gangguan operasional terbatas pada beberapa hari puncak eskalasi di awal Maret.
Khawatir Modal Nyangkut Kalau Situasi Memburuk Lagi?
Struktur Free Zone dari vOffice memberi fleksibilitas keluar-masuk pasar tanpa terikat komitmen jangka panjang yang kaku.
Noise Geopolitik vs Risiko Operasional Riil: Cara Membedakannya
Bukan berarti semua kekhawatiran soal Hormuz tidak berdasar. Kenaikan biaya asuransi kapal, potensi lonjakan harga BBM, dan volatilitas pasar keuangan adalah risiko riil yang memengaruhi biaya hidup dan operasional di seluruh kawasan Teluk, termasuk UEA. Yang perlu dipisahkan adalah mana risiko yang benar-benar mengganggu operasional bisnis harian di Dubai, dan mana yang sekadar sentimen pasar jangka pendek.
Indikator praktis yang bisa dipakai: apakah bank tempat Anda akan membuka rekening tetap beroperasi normal (ya, sektor perbankan UEA tumbuh selama krisis), apakah pemerintah setempat menutup akses bisnis asing (tidak, kepemilikan asing 100 persen tetap berlaku), dan apakah pusat logistik utama tetap berfungsi (Jebel Ali sempat mengalami kepadatan akibat pengalihan kapal, namun tetap beroperasi sebagai hub transshipment terbesar di kawasan).
Catatan dari tim konsultan vOffice, Official Dubai Chamber Partner: klien yang bertanya soal Hormuz umumnya lebih tenang setelah melihat bahwa proses pembukaan rekening bank dan pengurusan visa residensi tetap berjalan normal sepanjang periode konflik. Yang berubah bukan kelayakan Dubai sebagai basis bisnis, melainkan kebutuhan untuk memilih struktur perusahaan yang cukup fleksibel jika situasi regional berubah lagi.
Baca Juga: 100% Kepemilikan Asing di Dubai: Apa yang Berubah di 2026 dan Apa Artinya bagi Investor Indonesia
Apa yang Dilakukan Pengusaha Cerdas Sekarang?
Pengusaha yang tetap melanjutkan rencana ke Dubai selama krisis umumnya melakukan tiga hal. Pertama, memilih struktur Free Zone untuk bisnis yang berbasis invoicing global dan tidak bergantung pada trading fisik lintas Teluk, karena eksposur terhadap gangguan pelayaran jauh lebih rendah. Kedua, memastikan proses pembukaan rekening bank perusahaan diselesaikan lebih awal, bukan ditunda menunggu situasi “seratus persen aman”, karena bank UEA tetap memproses aplikasi normal selama krisis. Ketiga, memanfaatkan momentum diplomatik: UAE aktif mendorong de-eskalasi dan mempertahankan hubungan dagang dengan semua pihak, termasuk mencabut larangan perjalanan ke Lebanon pada akhir Juni 2026, sinyal bahwa normalisasi regional sedang berjalan.
Menunggu kepastian 100 persen sebelum bertindak jarang menjadi strategi yang menguntungkan di pasar mana pun. Baca juga panduan General Trading License Dubai dan panduan E-Trader License Dubai dari vOffice untuk memahami opsi lisensi yang sesuai dengan model bisnis Anda.
Siap Melangkah Berdasarkan Data, Bukan Ketakutan?
Tim vOffice, dipercaya 50.000+ klien, mendampingi dari konsultasi hingga perusahaan Dubai Anda resmi beroperasi.
Referensi
1. UN Trade and Development. (2026). Strait of Hormuz disruptions: Growth and financial implications.
https://unctad.org/publication/strait-hormuz-disruptions-growth-and-financial-implications
2. Gulf News. (2026, April 19). UAE economic growth accelerates in early 2026 driven by banking and trade gains.
https://gulfnews.com/business/economy/uae-growth-accelerates-in-early-2026-driven-by-banking-and-trade-gains-1.500511998
3. The National. (2026, July 3). UAE’s non-oil business activity grows at slowest pace in five years in June amid fallout of Iran war.
https://www.thenationalnews.com/business/economy/2026/07/03/uaes-non-oil-business-activity-grows-at-slowest-pace-in-five-years-in-june-amid-fallout-of-iran-war/
4. Dubai Chronicle. (2026, July 7). Dubai’s economy and rental market both surge in June 2026.
Dubai’s Economy Accelerates, and Rents Are Telling the Same Story
5. CNBC. (2026, March 3). First flights take off from Dubai after Iran strikes, but service is ‘limited’.
https://www.cnbc.com/2026/03/02/middle-east-flights.html
6. Arabian Business. (2026, July 13). UAE flights: Latest updates Emirates, Etihad and more amid US-Iran tensions.
https://www.arabianbusiness.com/abnews/uae-flights-latest-emirates-eithad




